The Voice of Women in Bali

Oleh : Luh Putu Anggreni, SH

Masih tampak rasa kaget dan sedikit keengganan kawan-kawan aktivis perempuan Bali, ketika ditanya apa yang mereka tahu mengenai Gerwani/ gerakan Wanita Indonesia. Walaupun saat peristiwa 65, banyak aktivis perempuan yang belum lahir atau baru dilahirkan, namun cerita yang tersebar dan didengar bahkan melekat kuat sebagai stigma yang sangat buruk, dirasakan oleh kawan-kawan terutama yang bekerja sebagai PNS. Pola diskriminasi yang terbentuk bertahun-tahun bagi perempuan Gerwani begitu kuatnya melekat, bahkan hingga sekarang ketika upaya rekonsiliasi banyak dilakukan oleh para pejuang HAM guna meluruskan sejarah atas penghakiman massal terhadap gerakan perempuan 1965.
Namun sangat berbeda ketika berbicara dengan peneliti muda yang juga aktivis perempuan; Roro Sawita , Alumni Fak. Sastra Sejarah Univ Udayana yang saat ini aktif di komunitas korban 1965. Gadis kelahiran Bali asal Bogor kota Hujan, lebih akrab disapa Roro, banyak mengungkap kedekatannya dengan ibu-ibu Gerwani, baik asal Bali maupun yang dari Jawa.Awalnya adalah ketika statusnya masih mahasiswa, diajak kawan-kawan LSM dan pejuang HAM di Bali untuk menelusuri upaya rekonsiliasi bagi para korban 1965. Dialog dan diskusi kerap dia ikuti, sampai akhirnya langsung melakukan penelitian dan investigasi langsung terhadap Ibu-Ibu Gerwani baik yang ada di Bali maupun di Jawa.Sayangnya saat ini, ibu-ibu Gerwani yang ada di Bali sudah banyak yang meninggal dunia, terutama yang dianggap tokoh atau pengurus Gerwani Bali. Saat ini hanya ada beberapa anggota biasa yang masih hidup, namun usianya sudah tua dan sakit-sakitan.
Menurut Roro, yang paling dirasakan sangat luar biasa terhadap gerakan ibu-ibu Gerwani ini adalah betapa pada jaman itu ( tahun 1950 ), sudah ada gerakan terprogram mengenai betapa pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Gerakan untuk kemandirian bagi perempuan secara ekonomi diwujudkan dengan membantu para ibu-ibu agar tetap bisa berjualan di pasar namun anak-anak aman dititipkan di TPA/ tempat penitipan anak, yang didirikan di pasar dan difasilitasi oleh Ibu-ibu Gerwani ini. Untuk gerakan kemanusiaan, Gerwani Bali sangat dirasakan keberadaannya ketika meletus gunung Agung pada tahun 1963. Bagaimana mereka membantu dan bersatu padu di tenda-tenda pengungsian selama berhari-hari bersama para korban yang telah kehilangan segala-galanya, baik harta benda, hingga keluarga yang disayang. Bahkan diceritakan pula bagaimana bersatunya kaum perempuan, ketika ada pimpinan Organisasi Gerwani pusat yang hendak berkunjung ke Bali, beberapa truk yang konvoi dengan penumpang semua perempuan menyambut hingga ke Gilimanuk dan beriringan menuju Denpasar. Sayangnya tidak ada lagi tokoh Ibu Gerwani asal Bali yang mampu bercerita mengenai struktur organisasi dan perekat idiologi berbasis masyarakat yang begitu kuatnya, sehingga mampu memberi kesadaran akan pentingnya sebuah gerakan bersama menghapus kebodohan pada kaum perempuan.
Ada ungkapan yang cukup menggelitik dari Roro ketika dia dengan tegas menyatakan bahwa penghancuran terhadap gerakan perempuan Gerwani adalah bentuk ketakutan kaum laki-laki terhadap kekuatan perempuan yang mandiri ,yang turut aktif sebagai penggerak perekonomian karena berbasis pada gerakan kaum petani, buruh dan kekuatan rakyat yang terpinggirkan.Bagaimana pembungkaman suara perempuan di era Soeharto yang menjadikan perempuan hanya sebagai boneka cantik yang duduk manis, adalah dampak trauma luar biasa akibat peristiwa politik 65 bagi kaum perempuan Indonesia.
Mengingat keberadaan gerakan perempuan Bali Tempo dulu dengan segala aktifitas sebagai pendidik, jurnalis media,dan sangat bergiat mengikuti pendidikan hingga ke luar Bali,tentunya perempuan Bali saat ini hendaknya pantang berputus asa. Walaupun peristiwa 65, mungkin masih membekas, yang membuat trauma bagi perempuan untuk terjun ke Politik, akan tetapi semangat gerakan Gerwani cukup dapat menjadi acuan. Batapa diera tahun 50 an, luar biasa kaum perempuan bisa bersatu padu untuk sebuah perjuangan, apakah saat ini dimana segala akses sudah sangat maju dan terbuka, perempuan Bali masih tetap takut untuk unjuk kekuatan….

Post by admin Opini, Umum 18 Feb, 2012 Comments (0)
Tidak ada Komentar

Belum ada komentar.

Leave a comment