The Voice of Women in Bali

oleh Putu  Suartini, SE

Anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita pejuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri-ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa negara pada masa depan. Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap wrga negaranya termauk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia dan anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa., yang di dalamnya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya.

Bagaimana kemudian upaya perlindungan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum. …?
Dalam UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, mengamanatkan bahwa anak yang berhadapan denga hukum berhak mendapatkan perlindungan khusus dari pemerintah dan masyarakat. ABH berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, berkembang, serta berhak memperoleh pelayanan pendidikan, kesejahteraan, dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik,mental,dan spiritual.
Memberikan perlindungan hukum terhadap anak yang berhadapan dengan hukum diperlukan dukungan kelembagaan dan kerjasama dalam pemenuhan hak-hak anak.

Dari berbagai kajian dan pemetaan tentang penanganan anak yang berhadapan dengan hukum belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang=undangan . Hal ini disebabkan antara lain kurangnya sosialisasi peraturan perundang-undangan sebagai peraturan dan pelaksanaan penangana anak yang berhadapan dengan hukum masih bervariasi dan undang-undang menggunakan persepsi yang berbeda dan terbatasnya sarana dan prasarana pananganan anak yang berhadapan dengan hukum.

Tingginya angka kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak membawa dampak bagi semakin buruknya anak yang masuk dalam peradilan pidana. Dalam proses peradilan pidana sebagian besar anak pelaku tindak pidana menjalankan panahanan di RUTAN dan selanjutnya divonis menjalani pidana di LAPAS.LAPAS anak saat ini masih sangat kurang jika dibandingkan dengan jumlah anak yang berhadapan dengan hukum akibatnya anak-anak yang ditahan /narapidana terpaksa harus tinggal diantara narapidana dewasa.

Kondisi tersebut membawa implementasi buruk terhadap perkembangan anak. untuk enghindari hal tersebut demi kepentingan terbaik anak maka para penagak hukum sekarang melalukan upaya penyelesaian perkara anak yang berhadapan denagn hukum dengan pendekatan keadilan restoratif , sebagai mana tercatat dalam KHA, The Beijing Rules dan ketentuan peraturan perundang-undang lainnya yang berkaitan dengan anak.

Keadilan restoratif adalah suatu penyelesaian secara adil yang melibatkan pelaku,korban, keluarga meraka, pihak lain yang terkait dengan suatu tindak pidana tersebut dan implilkasinya dengan menekankan pemulihan kembali kepada keadaan semula.Dengan melaksanakan penanganan ABH dengan pendekatan Restoratif Juctice dilakukan oleh lembaga instansi/lembaga terkait baik penagak hukum, pemerintah, maupun lembaga kemasyarakatan liannya secara sistematis konprehensif, berkesinambungan dan terpadu.

Prasyarat pendekatan keadilan Restoratif
a. Pelaku.
- Usia Pelaku
Semakin muda usia pelaku semakin penting untuk dilakukan penyelsaian dengan pendekatan Restoratif
- Pengakuan dan Penyesalan Pelaku.
Penyelesaian dengan pendekatan keadilan Restoratif tidak dapat dipertimbangkan jika anak tidak mengakui perbuatan dan tidak menyesalinya.
- Kondisi anak sebagai pelaku dan jumlah tindak pidana yang dilakukan.
Apabila faktor pendorong anak melakukan tindak pidana untuk petama kali, maka penyelesaian dengan pendekatan keadilan restoratif dilakukan dengan cara mediasi atau musyawarah keluarga. Dengan melibatkan korban, pelaku dan keluarganya menjadi perioritas utama.

b. Kategori Tindak Pidana.
- Kategori tindak pidana yang diancam dengan sanksi pidana dengan 1(satu) tahun harus diperioritaskan untuk dilakukan diskrresi, perkara tersebut tidak perlu diproses melalui hukum formal, cukup diberikan peringatan secara lisan maupun tertulis.
- Kategori tindak pidana yang diancam dengan sanksi pidana lebih dari 1 (satu) tahun sampai dengan 5 tahun diprioritaskan untuk diselesaikan dengan pendekatan keadilan restoratif, dengan cara mediasi korban, pelaku dan keluarganya.
- Kategori tindak pidana yang diancam dengan sanksi pidana labih dari 5 (lima) tahun, yang tidak mengkibatkan luka berat dan hilang nyawa dapat diselesaikan dengan pendekatan keadilan restoratif.

Jenis- jenis penanganan dengan pendekatan keadilan restoratif.
1. Mediasi korban dengan pelaku
Tujuan mediasi adalah untuk menyelesaikan sengketa melalui proses perundingan guna memperoleh kesepakatan para pihak.
2. Musyawarah Keluarga.
Melibatkan keluarga pelaku dan keluarga korban, dengan difasilitasi oleh seorang fasilitator dari pihak yang netral agar memperoleh kesepkatan dari kedua belah pihak.
3. Musyawarah masyarakat.
Melibatkan keluarga pelaku dan keluarga korban, dengan di fasilitasi oleh seorang fasilitator dari pihak yang netral agar memperoleh kesepkatan dari kedua belah pihak

Memang tidak semua tindak pidana yang dilakukan oleh anak dapat diselesaikan dengan pendekatan Restoratif, tetapi kita harus memahami sesuai yang diamanatlan UU Perlindungan Anak bahwa pemenjaraan adalah upaya yang terakhir.Pembinaanlah yang paling tepat karena ketika anak sebagai pelakupun harus kita sadari sebenarnya dia adalah korban. Mungkin korban dari orang tua,lingkungan, atau mungkin korban dari kebijakan negeri ini.

Post by admin Opini, Tak Berkategori 05 Mei, 2012 Comments (0)
Tidak ada Komentar

Belum ada komentar.

Leave a comment