The Voice of Women in Bali

By. I Gusti Ayu Diah Yuniti

Kanker serviks biasanya menyerang atau terjadi pada perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual. Dengan kata lain semakin muda usia perempuan melakukan hubungan seks maka resiko terkena kanker serviks juga semakin mudah. Terlebih apabila sering berganti-ganti pasangan.

Menurut data Departemen Kesehatan RI di Indonesia ada 400 kasus perempuan yang positif terinfeksi HPV (Virus Human Papiloma), 70 persen lebih ternyata sudah stadium lanjut. Kebanyakan dari mereka sudah pada grade II dan III.  Melihat tingginya angka tersebut dapat disebabkan oleh karena kurangnya pemahaman perempuan terhadap bahaya kanker serviks itu sendiri. Disamping itu juga penyakit ini tidak menimbulkan gejala awal ataupun keluhan sehingga mereka lebih memilih menunda ataupun tidak melakukan pemeriksaan karena dianggap tidak penting. Padahal penyakit ini menyerang perempuan pada usia produktif (usia 30-50 tahun). Kanker  serviks (kanker mulut rahim) merupakan penyebab  kematian bagi sebagian besar perempuan setiap tahunnya. Namun justru penyakit ini tidak menunjukkan gejala ataupun  keluhan, sehingga  saat pasien memeriksakan diri penyakitnya sudah akut. Dari 400 kasus yang terjadi di Indonesia pada tahun 2010, sebanyak 70 persennya sudah stadium lanjut.

Di Bali sendiri menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Bali pada tahun 2010 ada sekitar 75 kasus perempuan yang positif terinfeksi HPV. Dari data tersebut kebanyakan sudah stadium lanjut.

Selain hubungan seks, kanker serviks juga bisa disebabkan akibat gaya hidup. Misalnya gaya hidup sebagai perokok, penurunan system kekebalan tubuh. Kalau dilihat secara angka, di Indonesia sebanyak 34,4 % perempuan terkena kanker serviks. Diprediksi setiap satu jam satu perempuan meninggal akibat keganasan virus tersebut. Penyakit kanker serviks ini muncul setelah 3 – 17 tahun kedepan setelah pasien positif terinfeksi HPV. Oleh karena itu diharapkan kesadaran perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seks  untuk menjaga bagaimana pentingnya melakukan pencegahan dini kanker serviks tersebut. Pencegahan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu cara primer, sekunder dan tersier. Pada pencegahan secara primer, pencegahan dilakukan dengan cara memberikan edukasi tentang pola hidup sehat, perilaku hubungan seks yang sehat yakni dengan menggunakan kondom, kebersihan dan melakukan vaksinasi. Akan tetapi vaksinasi ini hanya dilakukan pada perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seks. Untuk yang sudah pernah melakukan hubungan seks pemberian vaksin setelah test pap smear dilakukan. Tapi sungguh sangat disayangkan sekali karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali vaksin yaitu sebesar Rp 600.000.

Untuk pencegahan sekunder yaitu dengan cara menemukan lesi pra kanker dengan test pap smear dan IVA (Inspeksi Visual dengan  asam cuka). Akan tetapi untuk pembacaan hasil test pap smear hanya dapat dibaca oleh dokter patologi, padahal tenaga dokter patologi hanya terbatas. Di Indonesia jumlah tenaga dokter patologi hanya 400 orang saja di seluruh Indonesia. Bisa dibayangkan kalau hanya 10 orang dokter patologi saja yang ada di setiap provinsi, hal inilah yang menyebabkan bahwa tidak semua perempuan dapat menikmati test ini, apalagi perempuan yang tinggal jauh di daerah pedalaman. Akan tetapi kalau dengan IVA para perempuan hanya cukup modal asam cuka. Dengan kedua test ini perempuan yang terinfeksi HPV akan tetapi belum sampai kanker dapat disembuhkan 100 persen.

Pencegahan secara tersier atau yang terakhir adalah dengan cara menemukan penyakit ini terlebih dahulu, sedini mungkin kita harus ketahui penyakit ini.

Sementara itu melihat tingginya jumlah penderita kanker serviks ini tentu diharapkan agar ada solusi untuk mengatasi. Pemeriksaan secara cuma-cuma perlu dilakukan, mengingat kanker serviks ini tidak menunjukkan gejala sehingga orang awam tidak tahu kalau dirinya terinfeksi. Selama ini tidak banyak ada perhatian dari pemerintah, sehingga kasus kanker serviks ini menjadi sulit terjangkau oleh perempuan kebanyakan. Sampai saat ini baru ada satu LSM yaitu dari FCP (Female Concern Program) yang peduli dan sangat memperhatikan masalah ini. Semoga dengan banyaknya kasus yang muncul membuat pemerintah segera mempermudah dalam pelayanan kesehatan terutama untuk mendapatkan imunisasi tidak terlalu mahal.

 

Post by admin Gender & Kesehatan, Opini 28 Feb, 2011 Comments (0)
Tidak ada Komentar

Belum ada komentar.

Leave a comment